SMARTPEKANBARU.COM – Sejumlah pengungsi Rohingya yang berada di Pekanbaru dilaporkan mulai meminta bantuan langsung kepada masyarakat akibat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi ini terlihat di kawasan Kompleks MTQ Jalan Wan Abdul Jamil, di mana para pengungsi tampak bertahan di sekitar lokasi penyaluran bantuan sosial.
Para pengungsi mengaku sudah beberapa hari mengalami kekurangan makanan. Situasi tersebut memaksa mereka turun ke jalan untuk meminta bantuan dari warga yang melintas. Kondisi ini mencerminkan semakin beratnya kehidupan yang mereka jalani di pengungsian, terutama di tengah keterbatasan bantuan yang tersedia.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian pengungsi masih bertahan di depan kantor perwakilan penyaluran bantuan sosial yang bekerja sama dengan International Organization for Migration. Mereka berharap adanya bantuan tambahan, baik dari masyarakat setempat maupun lembaga kemanusiaan yang selama ini mendampingi mereka.
Tidak hanya di kawasan MTQ, sejumlah pengungsi lainnya juga terlihat melakukan aksi serupa di depan kantor IOM di Jalan HR Soebrantas. Di lokasi tersebut, mereka menyampaikan keluhan terkait kondisi hidup yang dinilai semakin sulit, terutama karena bantuan kebutuhan pokok yang diterima dianggap belum mencukupi.
Respons masyarakat setempat pun cukup beragam. Sejumlah warga terlihat memberikan bantuan secara langsung kepada para pengungsi. Bantuan yang diberikan antara lain berupa mi instan dalam jumlah besar, makanan siap saji, serta minuman kemasan. Selain itu, ada pula warga yang memberikan uang tunai dengan nominal sederhana sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi para pengungsi.
Bantuan tersebut diberikan secara sukarela, didorong oleh rasa empati terhadap kondisi para pengungsi yang harus bertahan di pinggir jalan bersama keluarga, termasuk anak-anak. Situasi ini menimbulkan keprihatinan, terutama karena mereka hidup dalam keterbatasan tanpa kepastian bantuan yang memadai.
Aksi para pengungsi hingga kini masih berlangsung di dua titik utama, yaitu di kawasan MTQ dan di depan kantor IOM. Mereka terus berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun organisasi kemanusiaan, untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Perwakilan pengungsi Rohingya, Ershad, menyampaikan bahwa kondisi para pengungsi semakin memburuk dari hari ke hari. Ia menyoroti terutama mereka yang tinggal di rumah sewaan dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas serta minimnya akses terhadap bantuan pangan.
Menurutnya, bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi para pengungsi dalam situasi saat ini. Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan untuk ikut membantu, terutama dalam bentuk kebutuhan pokok seperti beras.
Ershad menyebutkan bahwa sumbangan sekitar 10 hingga 15 kilogram beras dari satu keluarga dapat membantu meringankan beban para pengungsi. Bantuan tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam beberapa waktu bagi keluarga pengungsi.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut aspek kemanusiaan. Diperlukan upaya bersama antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat untuk memastikan para pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar yang layak.
Dengan meningkatnya kesulitan yang dihadapi, para pengungsi berharap adanya solusi jangka panjang agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih layak dan tidak terus bergantung pada bantuan darurat.
Sumber: Tribun Pekanbaru


