MEDIASMART.ID – Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah mendorong pemerintah untuk memperbarui panduan penanganan darurat bencana di Indonesia agar kebutuhan gizi kelompok rentan, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita, dapat menjadi prioritas utama. Usulan tersebut muncul karena kelompok rentan masih kerap menghadapi berbagai kendala dalam memperoleh asupan gizi yang memadai saat terjadi bencana maupun pada masa pemulihan pascabencana.
Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, Rahmawati Husein, menilai perhatian terhadap kebutuhan gizi kelompok rentan masih belum optimal dalam berbagai situasi kebencanaan. Padahal, kondisi gizi yang baik sangat menentukan kesehatan dan tumbuh kembang anak serta proses pemulihan ibu setelah menghadapi kondisi darurat.
Menurut Rahmawati, upaya pemenuhan kebutuhan gizi tidak boleh hanya difokuskan pada fase pemulihan. Tahap tanggap darurat juga memiliki peran yang sangat penting karena menjadi periode awal yang menentukan kondisi kesehatan penyintas dalam jangka panjang. Bahkan, masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan sering kali berlangsung cukup lama sehingga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan berbagai pihak terkait.
Ia menjelaskan bahwa banyak daerah terdampak bencana masih menghadapi masa transisi yang panjang setelah kejadian bencana berakhir. Oleh karena itu, kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan, harus dipenuhi secara berkelanjutan sejak hari-hari pertama terjadinya bencana hingga kondisi kembali normal.
Rahmawati menegaskan bahwa kualitas penanganan pada fase darurat akan sangat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat pada tahap pemulihan. Jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi sejak awal, risiko munculnya berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan pertumbuhan pada anak, akan semakin besar.
Saat ini pemerintah sebenarnya telah memiliki Panduan Operasional Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat yang disusun oleh Kementerian Kesehatan. Panduan tersebut pertama kali diterbitkan pada 2014 dan diperbarui pada 2019 melalui Pusat Krisis Kesehatan. Namun, menurut Rahmawati, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa panduan tersebut masih perlu disempurnakan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat menghadapi bencana.
Selain mendorong pembaruan panduan, PP Aisyiyah juga menyoroti kualitas bantuan pangan yang diberikan kepada para penyintas. Selama ini, bantuan yang disalurkan sering kali berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi semata tanpa memperhatikan kualitas gizi yang dibutuhkan kelompok rentan.
Rahmawati mencontohkan masih banyak bantuan berupa mi instan, biskuit, dan produk kental manis yang menjadi konsumsi utama masyarakat terdampak bencana. Meskipun mudah didistribusikan dan praktis dikonsumsi, jenis makanan tersebut dinilai kurang ideal apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, terutama oleh ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita.
Karena itu, PP Aisyiyah berharap pemerintah dapat memperkuat kebijakan penanganan gizi dalam situasi darurat dengan memperbarui panduan yang ada, meningkatkan kualitas bantuan pangan, serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi selama masa bencana dan pemulihan. Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi kesehatan kelompok rentan sekaligus mencegah munculnya berbagai persoalan gizi yang dapat berdampak dalam jangka panjang.
Sumber: Tribun News


