SMARTPEKANBARU.COM, Pelalawan – Masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Pelalawan, Riau, mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam dua pekan terakhir. Kelangkaan pertalite dan biosolar terjadi di sejumlah daerah, terutama di Kecamatan Kuala Kampar dan Kecamatan Teluk Meranti. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi warga terganggu, mulai dari sektor perkebunan, pertanian, hingga perikanan.
Warga Kuala Kampar, Rizaldi (44), mengatakan bahwa masyarakat sangat kesulitan memperoleh BBM subsidi. Kalaupun tersedia, harganya jauh lebih mahal dibanding harga normal. Ia menyebutkan, pertalite eceran dijual hingga Rp30 ribu per botol. Menurutnya, kelangkaan BBM membuat warga harus mengurangi aktivitas sehari-hari karena bahan bakar menjadi kebutuhan utama untuk bekerja.
Para petani dan pekebun kini tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Warga yang ingin pergi ke kebun untuk memanen kelapa harus mencari BBM terlebih dahulu agar dapat mengangkut hasil panen menggunakan kendaraan atau sampan bermotor. Begitu juga dengan petani sawah yang sebelumnya rutin bekerja setiap hari, kini terpaksa mengurangi frekuensi aktivitas karena keterbatasan bahan bakar.
Dampak yang sama juga dirasakan para nelayan di wilayah pesisir Pelalawan. Mereka harus membeli BBM dengan harga tinggi agar mesin robin penggerak sampan tetap bisa digunakan untuk mencari ikan di sungai maupun laut. Situasi tersebut semakin memberatkan masyarakat karena kondisi geografis daerah pesisir yang sulit dijangkau dan sangat bergantung pada transportasi air.
Rizaldi menjelaskan bahwa pasokan BBM baru mulai masuk kembali ke SPBU pada beberapa hari terakhir. Setelah distribusi kembali berjalan, antrean kendaraan langsung memanjang karena warga sudah lama menunggu stok BBM tersedia. Menurutnya, masyarakat berharap distribusi dapat kembali normal agar aktivitas ekonomi tidak terus terganggu.
Keluhan serupa juga datang dari warga Teluk Meranti. Zulkifli (38) mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya sudah terbiasa membeli pertalite dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Selama ini, pertalite dalam botol ukuran 1,2 liter biasa dijual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Namun, persoalan utama saat ini bukan hanya harga yang mahal, melainkan sulitnya mendapatkan stok BBM di pasaran.
Kondisi kelangkaan BBM di wilayah pesisir Pelalawan telah dibahas Pemerintah Kabupaten Pelalawan bersama pihak Pertamina dalam rapat koordinasi pekan lalu. Pemerintah daerah meminta agar pasokan BBM subsidi ke SPBU di wilayah pesisir dapat dilakukan secara rutin dan tepat waktu sesuai kuota yang tersedia.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Pelalawan, Hanafie, menyebutkan bahwa pemerintah juga mengusulkan penambahan subpenyalur BBM subsidi di desa-desa terpencil. Langkah tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat memperoleh BBM tanpa harus pergi ke desa lain yang memiliki SPBU atau penyalur resmi.
Sumber: Tribun Pekanbaru


