SMARTPEKANBARU.COM, Kuantan Singingi – Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) terus berupaya menjaga kelestarian Sungai Kuantan menjelang pelaksanaan Festival Pacu Jalur Nasional 2026. Salah satu perhatian utama pemerintah daerah saat ini adalah kondisi air Sungai Kuantan yang kembali keruh akibat maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah hulu sungai.
Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby, berharap aliran Sungai Kuantan dapat kembali jernih seperti saat pelaksanaan Festival Pacu Jalur tahun sebelumnya. Menurutnya, kejernihan sungai memiliki arti penting bagi masyarakat Kuansing karena Sungai Kuantan bukan hanya menjadi sumber kehidupan masyarakat, tetapi juga merupakan bagian utama dari budaya Pacu Jalur yang telah menjadi identitas daerah selama bertahun-tahun.
Suhardiman menyampaikan bahwa beberapa waktu menjelang Festival Pacu Jalur 2025 lalu, kondisi Sungai Kuantan sempat membaik dan terlihat lebih jernih. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena aktivitas PETI kembali marak di sejumlah wilayah hulu sungai, termasuk di daerah perbatasan Sumatera Barat.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas penambangan ilegal tersebut menyebabkan air sungai kembali keruh dan memicu pendangkalan di beberapa titik aliran sungai. Dampak tersebut dinilai sangat merugikan karena tidak hanya mengganggu kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam keberlangsungan tradisi Pacu Jalur yang setiap tahun digelar di Sungai Kuantan.
Menurut Suhardiman, Sungai Kuantan memiliki nilai budaya yang sangat besar bagi masyarakat Kuansing. Sungai itu menjadi lokasi utama pelaksanaan Pacu Jalur, tradisi lomba perahu panjang khas Kuantan Singingi yang telah dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional. Karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian sungai menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dan pemerintah.
Pemerintah Kabupaten Kuansing pun berharap operasi penertiban PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan terus diperkuat. Hingga saat ini, Polda Riau bersama jajaran kepolisian daerah rutin melaksanakan Operasi Gempur PETI guna menekan aktivitas penambangan emas ilegal yang merusak lingkungan.
Meski operasi penertiban terus dilakukan, Suhardiman menilai upaya penjernihan Sungai Kuantan belum berjalan maksimal. Hal tersebut disebabkan aktivitas PETI masih berlangsung di sejumlah wilayah hulu sungai yang berada di luar wilayah Kuansing. Kondisi itu membuat material lumpur dan sedimentasi tetap terbawa arus hingga ke Sungai Kuantan.
Selain menyebabkan air menjadi keruh, aktivitas PETI juga dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang ilegal dapat berdampak pada kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk sektor perikanan dan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Suhardiman menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga kelestarian Sungai Kuantan. Karena itu, ia meminta seluruh camat dan kepala desa di wilayah bantaran sungai untuk ikut aktif melakukan pengawasan serta mencegah munculnya aktivitas PETI di daerah masing-masing.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah kecamatan dan desa sangat penting karena mereka merupakan pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan pengawasan yang lebih ketat di tingkat daerah, pemerintah berharap aktivitas penambangan ilegal dapat ditekan sehingga kerusakan lingkungan tidak semakin meluas.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga Sungai Kuantan sebagai aset budaya dan kebanggaan daerah. Suhardiman menilai kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sungai, terutama menjelang pelaksanaan Festival Pacu Jalur Nasional 2026.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kuansing mulai melakukan berbagai persiapan untuk menyambut pelaksanaan Festival Pacu Jalur Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 19 hingga 23 Agustus 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Festival tahunan tersebut diperkirakan kembali menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Pacu Jalur sendiri merupakan tradisi budaya khas Kuantan Singingi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Perlombaan perahu panjang itu tidak hanya menjadi ajang olahraga tradisional, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat serta daya tarik wisata budaya di Provinsi Riau.
Pemerintah daerah berharap pelaksanaan Festival Pacu Jalur tahun ini dapat berlangsung lebih meriah dan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat lokal. Karena itu, kondisi Sungai Kuantan menjadi perhatian utama agar festival dapat berlangsung dengan baik dan nyaman bagi peserta maupun wisatawan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap promosi budaya daerah, Pemkab Kuansing juga berencana mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk hadir langsung dalam Festival Pacu Jalur Nasional 2026. Kehadiran kepala negara diharapkan dapat semakin meningkatkan perhatian nasional terhadap tradisi budaya Pacu Jalur dan potensi wisata Kuantan Singingi.
Selain menjadi ajang budaya, Festival Pacu Jalur juga dinilai memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. Setiap tahun, ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan perlombaan jalur di Tepian Narosa. Kehadiran wisatawan tersebut turut meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama pelaku usaha kecil, pedagang, penginapan, dan sektor transportasi lokal.
Pemerintah Kabupaten Kuansing berharap seluruh pihak dapat mendukung upaya menjaga kelestarian Sungai Kuantan demi keberlangsungan budaya Pacu Jalur dan lingkungan hidup masyarakat. Dengan sungai yang bersih dan terjaga, Festival Pacu Jalur diharapkan dapat kembali berlangsung meriah sekaligus menjadi simbol kebanggaan budaya masyarakat Kuantan Singingi.
Sumber: Tribun Pekanbaru


