MEDIASMART.ID – Aksi demonstrasi mahasiswa yang sebelumnya digelar oleh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pada 12 Juni 2026 memicu gerakan serupa di berbagai daerah di Indonesia. Demonstrasi tersebut muncul sebagai bentuk respons terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai membebani masyarakat, terutama terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan kondisi demokrasi yang dianggap semakin menyempit.
Kenaikan harga BBM menjadi salah satu pemicu utama gelombang protes tersebut. Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) mencapai Rp17.000 per liter. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa karena dinilai akan berdampak pada meningkatnya biaya hidup masyarakat serta harga kebutuhan pokok.
Dalam aksi yang digelar di Jakarta, mahasiswa UI mengusung tema “Aksi Menuju Indonesia Bangkrut”. Mereka berencana melakukan demonstrasi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Namun, aksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan TNI dan Polri di sekitar Jalan M.H. Thamrin. Situasi itu kemudian memunculkan kritik mengenai kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi di Indonesia.
Pada Rabu, 17 Juni 2026, sejumlah kelompok mahasiswa di berbagai daerah juga menggelar aksi serupa. Demonstrasi berlangsung di Surabaya, Jawa Timur; Salatiga, Jawa Tengah; serta Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun memiliki tuntutan yang beragam, para peserta aksi memiliki tujuan yang sama, yakni menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Di Salatiga, demonstrasi dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul di Graha Korpri. Aksi tersebut melibatkan berbagai elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil, seperti Gerakan Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Forum Diskusi Simpul Salatiga, Serikat Mahasiswa Anti-Authoritarian, serta Aksi Kamisan Salatiga. Mereka menyoroti berbagai persoalan yang dianggap berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Sementara itu, di Yogyakarta, aksi yang digelar oleh BEM Nusantara DIY berlangsung mulai pukul 13.00 WIB dengan titik kumpul di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Demonstrasi mengusung tema “Seruan Aksi Dandan Negoro”. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya nilai tukar rupiah, serta kondisi demokrasi yang dinilai semakin terbatas.
Di Surabaya, demonstrasi dipelopori oleh BEM Universitas Airlangga (Unair) bersama BEM Seluruh Indonesia wilayah Jawa Timur. Aksi digelar di depan Gedung Negara Grahadi mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Para mahasiswa telah menyusun 16 tuntutan yang akan disampaikan kepada pemerintah. Presiden BEM Unair, M. Rizqi Senja Virawan, menyebutkan bahwa beberapa isu utama yang menjadi fokus demonstrasi meliputi perbaikan tata kelola ekonomi nasional, penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, serta evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Melalui aksi yang berlangsung di berbagai daerah tersebut, mahasiswa berharap pemerintah lebih terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat serta mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Sumber: Tribun News


