MEDIASMART.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran baru di sektor kesehatan masyarakat. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada melonjaknya biaya pengadaan komoditas impor, termasuk pasokan medis. Akibatnya, industri farmasi dalam negeri kini dihadapkan pada ancaman kenaikan harga produk serta potensi gangguan distribusi obat-obatan secara nasional.
Epidemiolog sekaligus pakar kesehatan global, Dicky Budiman, mengingatkan bahwa situasi ini mempertegas kerentanan struktur industri farmasi nasional terhadap gejolak ekonomi global. Menurutnya, ketergantungan yang terlampau tinggi pada sektor hulu membuat harga obat-obatan di pasar domestik menjadi sangat sensitif. Faktor pemicunya tidak hanya fluktuasi nilai mata uang, melainkan juga perubahan harga energi di tingkat dunia.
Ketergantungan Sektor Hulu yang Rapuh
Kekhawatiran yang disampaikan oleh Dicky sejalan dengan data resmi dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) serta Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan catatan tersebut, nilai impor Bahan Baku Obat (BBO) Indonesia terus menunjukkan angka yang signifikan. Pada tahun 2021, nilai impor tercatat sebesar US$ 443 juta, kemudian naik menjadi US$ 509 juta pada tahun 2022, hingga melonjak tajam mencapai US$ 1,27 miliar pada tahun 2023. Tiongkok menjadi negara pemasok utama dengan porsi 45 persen, disusul India sebesar 27 persen, dan Amerika Serikat sebanyak 8 persen. Meskipun sempat terjadi fluktuasi volume, tingkat ketergantungan impor BBO nasional tetap berada di atas angka 90 persen.
Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa industri farmasi di Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas produksi obat jadi yang cukup besar untuk kebutuhan domestik. Sekitar 95 persen produk obat jadi yang beredar di pasar saat ini merupakan hasil olahan pabrik di dalam negeri. Namun, kemampuan ini hanya terkonsentrasi pada sektor hilir atau tahap akhir pengemasan dan formulasi saja.
Tantangan Pasokan Farmasi di Masa Depan
Kondisi sebaliknya terjadi di sektor hulu, di mana sekitar 85 persen hingga 90 persen bahan aktif penyusun obat masih harus didatangkan dari luar negeri, terutama India dan Tiongkok. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa fondasi ketahanan kesehatan nasional masih sangat rapuh dan mudah goyah oleh faktor eksternal. Ketika mata uang dolar Amerika Serikat menguat, biaya produksi otomatis membengkak.
Oleh karena itu, momentum pelemahan nilai tukar rupiah ini diharapkan dapat menjadi peringatan keras bagi pemangku kebijakan. Pemerintah bersama pelaku industri strategis perlu segera merumuskan langkah nyata untuk membangun kemandirian bahan baku obat di dalam negeri. Tanpa adanya pembenahan di sektor hulu, ketahanan medis masyarakat akan selalu dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global.
Sumber: Tribun News


