MEDIASMART.ID — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, mata uang Indonesia tersebut menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, menandai meningkatnya tekanan di pasar keuangan nasional.
Pada awal perdagangan di pasar spot, rupiah dibuka pada posisi Rp17.983 per dolar AS. Namun, pelemahan terus berlanjut seiring meningkatnya permintaan terhadap mata uang dolar AS. Hanya dalam waktu singkat, tepatnya sekitar pukul 09.04 WIB, nilai tukar rupiah menembus angka Rp18.004 per dolar AS. Tren pelemahan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda hingga pukul 09.28 WIB, ketika rupiah kembali turun ke level Rp18.029 per dolar AS.
Melemahnya rupiah memberikan dampak langsung terhadap kondisi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi indikator utama pergerakan pasar saham nasional turut mengalami tekanan sejak awal perdagangan. Sentimen negatif dari pelemahan mata uang domestik membuat mayoritas investor cenderung melakukan aksi jual sehingga indeks bergerak di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 5.919,57 atau turun 21,50 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka 5.941,07. Penurunan tersebut setara dengan pelemahan sebesar 0,36 persen pada awal sesi perdagangan.
Selama perdagangan pagi berlangsung, IHSG sempat bergerak di kisaran level tertinggi 5.924,51 dan level terendah 5.836,42. Tekanan jual yang terus meningkat membuat pelemahan indeks semakin dalam. Hingga pukul 09.08 WIB, IHSG tercatat turun 77,03 poin atau sekitar 1,30 persen ke posisi 5.864,04.
Aktivitas perdagangan saham pada hari itu terpantau cukup tinggi. Volume transaksi mencapai lebih dari 4 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,544 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 303.100 kali transaksi, menunjukkan tingginya aktivitas pelaku pasar dalam merespons kondisi ekonomi yang berkembang.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 110 saham yang berhasil menguat. Sebaliknya, sebanyak 499 saham mengalami penurunan, sedangkan 350 saham lainnya bergerak stagnan. Data tersebut mencerminkan dominasi sentimen negatif yang terjadi di pasar modal pada awal perdagangan.
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian serius bagi berbagai sektor ekonomi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah tekanan terhadap dunia usaha, serta memengaruhi daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Di sisi lain, pelaku pasar dan investor kini menantikan langkah-langkah kebijakan yang akan diambil pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memulihkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Sumber: Tribun News


