MEDIASMART.ID – Salah satu pencari kerja bernama Syarif (47) menyusuri deretan booth perusahaan di Convention Hall SMESCO, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Mengenakan kemeja hitam, ia mendatangi stan demi stan dalam program Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 yang digelar Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Di tangannya, terdapat sebuah map cokelat berisi berkas lamaran kerja. Sesekali, Syarif berhenti untuk mencari informasi lowongan pekerjaan dan menyerahkan berkas lamarannya kepada perusahaan yang membuka kesempatan kerja.
Ia hanya berharap ada perusahaan yang bersedia menerimanya kembali bekerja setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dua bulan lalu.
“Saya datang dan hanya berharap mendapatkan kerja lagi,” kata Syarif saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis.
Selama 20 tahun bekerja, Syarif menggeluti bidang teknologi informasi atau information technology (IT). Ia paham betul mengenai pemantauan dan pemeliharaan server.
Namun, pengalaman panjang itu ternyata belum menjamin dirinya mudah mendapatkan kerja yang baru.
Di usianya yang menuju 50 tahun, Syarif harus kembali bersaing dengan para pencari kerja, termasuk mereka yang jauh lebih muda darinya.
Situasi ini kerap membuatnya tidak percaya diri. Terlebih, sejumlah lowongan pekerjaan masih mencantumkan batas usia bagi calon pelamar.
“Kalau usia, saya enggak pede sama yang baru nih, 47. Karena baru kena layoff dua bulan lalu,” kata Syarif.
Kini, keadaan membuatnya harus lebih realistis. Saat datang ke bursa kerja di SMESCO, Syarif tidak hanya mengincar perusahaan yang membuka lowongan di bidang IT.
Ia bahkan bersedia melamar pekerjaan di luar bidang yang selama ini digelutinya.
“Apa aja sih. Kalau lihat keadaan kayak gini, kita enggak bisa fokus di satu bidang itu aja. Apa pun yang bisa terima kita ya kita ambil,” ujarnya.
Bagi Syarif, hal terpenting saat ini adalah kembali mendapatkan pekerjaan. Ia tidak ingin membatasi diri hanya pada satu bidang, terlebih setelah kehilangan pekerjaan dua bulan lalu.
Sebelum datang ke SMESCO, Syarif mengaku telah berusaha mencari pekerjaan melalui berbagai platform daring, termasuk LinkedIn. Ia juga mencari informasi lowongan kerja melalui teman-temannya.
Namun, hingga kini, ia belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru.
Karena itu, begitu mengetahui adanya bursa kerja, Syarif memutuskan datang langsung untuk mencoba peruntungan. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan mencari pekerjaan di SMESCO.
Agar tidak datang terlambat, Syarif berangkat dari rumahnya di Bogor, Jawa Barat, sejak pukul 06.00 WIB.
Setibanya di SMESCO, ia harus bersaing dengan banyak pencari kerja lain yang juga berharap mendapatkan kesempatan dari perusahaan peserta bursa kerja.
Meski demikian, Syarif memilih untuk tetap mencoba. Ia menyadari persaingan mencari pekerjaan saat ini tidak mudah, sehingga dirinya tak ingin menyerah sebelum berusaha.
Pengalaman kerja selama 20 tahun menjadi modal yang masih ia pegang. Ia berharap pengalaman dan keterampilannya bisa menjadi pertimbangan perusahaan, meski usianya tak lagi muda.
Pengalaman mencari pekerjaan setelah terkena PHK membuat Syarif berharap perusahaan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi pencari kerja berusia matang.
Menurut dia, usia seharusnya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam proses perekrutan karyawan. Kemampuan dan keterampilan seseorang juga perlu diperhitungkan.
Ia berharap penyelenggara bursa kerja maupun perusahaan dapat memberikan kesempatan kepada pelamar tanpa terlalu membatasi usia.
“Oh iya. Nah, penginnya sih kalau memang tiap-tiap yang mengadakan itu kalau bisa usia kerja jangan dilihat ya. Kan kalau kita lihat kan di luar negeri semua banyak gitu kan tanpa usia kerja, yang penting dia skill. Kalau skill-nya ada, jangan lihat umurnya lah,” kata Syarif.
Bagi Syarif, kehilangan pekerjaan di usia 47 tahun bukan berarti dirinya kehilangan kemampuan untuk kembali bekerja.
Dua puluh tahun pengalaman di bidang IT telah memberinya bekal keterampilan. Kini, ia hanya berharap ada perusahaan yang bersedia memberinya kesempatan untuk membuktikan kemampuan tersebut.
“Semuanya yang di sini insyaallah bisa dapat kerja lah,” ujarnya.
Bagi Syarif, selama masih ada kesempatan untuk mencoba, ia akan terus berusaha.
Sebab, di tengah persaingan mencari kerja yang semakin ketat, pengalaman panjang semestinya tetap menjadi nilai tambah, bukan alasan untuk menutup pintu kesempatan.
Sumber: Tribun News


