MEDIASMART.ID – Aksi pembentangan dua spanduk oleh enam aktivis Greenpeace Indonesia di atas Monumen Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) lalu ternyata memiliki makna simbolis dalam penempatannya.
Kedua spanduk sengaja dipasang saling membelakangi dan menghadap ke dua arah berbeda, yakni utara dan selatan. Penempatan ini dirancang untuk menyampaikan pesan kepada dua audiens sekaligus, yaitu pemerintah dan masyarakat.
Social & Economic Campaign Team Leader Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, mengungkapkan bahwa spanduk pertama yang menghadap ke utara ditujukan sebagai teguran keras kepada pemerintah pusat.
Spanduk yang menghadap ke arah Istana tersebut memuat tuntutan kepada pemerintah dengan tulisan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”.
“Secara konsep juga ada dua banner yang dibuat. Satu menghadap utara, sebenarnya sebagai simbolis agar pesan ini dilihat oleh pihak Istana,” ungkap Atha saat dihubungi Kompas.com melalui panggilan telepon, Kamis (22/10/2026).

Sementara itu, spanduk kedua yang dipasang menghadap ke arah selatan atau ke arah Jalan Jenderal Sudirman, dirancang untuk merepresentasikan suara dan jeritan hati masyarakat kelas pekerja yang sehari-hari melintasi jalan tersebut.
Spanduk kedua itu dinilai menjadi curahan hati masyarakat yang bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”.
“Satu lagi yang ke selatan itu sebenarnya membawa keresahan masyarakat. Pertanyaan sebenarnya yang juga diajukan oleh masyarakat gitu ya, hidup kita makin sulit tapi kok apa sebenarnya kerja dan yang dilakukan oleh pemerintah gitu,” jelas Atha.
Keresahan Biaya Hidup
Atha pun menyebut bahwa pesan yang dibawa melalui spanduk di Bundaran HI tersebut berawal dari temuan riset terbaru Greenpeace terkait dampak nyata krisis ekologis terhadap perekonomian warga.
Menurut dia, riset yang dilakukan di tiga kota besar dan wilayah aglomerasi di Pulau Jawa menemukan bahwa harga pangan dan biaya transportasi terus meningkat.
Sementara itu, produktivitas dan pendapatan masyarakat cenderung menurun jika dibandingkan dengan kenaikan biaya hidup.
“Jadi sebenarnya aksi yang kami lakukan ini utamanya untuk menyampaikan temuan utama dari laporan kami yang terbaru. Kami baru saja tahun ini melakukan riset, melihat keterkaitan dampak krisis iklim, cuaca yang makin tidak menentu, kekeringan yang makin panjang terhadap beberapa sektor,” kata Atha.
Selain menyampaikan hasil riset, Atha mengatakan Bundaran HI sengaja dipilih sebagai lokasi aksi agar isu krisis iklim mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Greenpeace juga mengangkat isu bencana sebagai momentum untuk menyuarakan kemarahan masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai belum tuntas ditangani, sementara bencana tersebut terus memakan korban jiwa.
“Situasi saat ini kan sangat mendukung sebenarnya bagi kami untuk menyampaikan tuntutan ini. Karena memang tidak hanya bicara soal krisis iklim secara umum, tapi kan bencana yang terjadi akibat kerusakan lingkungan juga terus terjadi. Karhutla juga masih terus berlangsung sudah empat bulan misalnya tidak ditangani,” tutur Atha.
Menurut dia, aksi kreatif tanpa kekerasan ini adalah langkah yang diperlukan agar pesan dari pinggiran daerah yang terdampak bencana bisa sampai ke meja para pemangku kebijakan di Ibu Kota.
“Kami memang sengaja memilih lokasi yang sepertinya akan mendapat atensi publik secara besar, dan yang kedua pesannya juga bisa sampai ke pemerintah pusat. Karena kami berharap memang Pemerintahan Prabowo-Gibran ini punya kebijakan yang progresif lah untuk mengatasi masalah lingkungan dan iklim,” ujarnya.
Latihan Panjang Pemanjat dan Perhitungan matang
Salah satu yang menjadi pertanyaan besar di tengah masyarakat adalah bagaimana cara para aktivis Greenpeace berhasil memanjat Bundaran HI sebagai salah satu objek vital di pusat Jakarta tanpa terciduk oleh petugas.
Atha mengatakan, pihaknya tidak dapat mengungkapkan secara terperinci strategi teknis yang digunakan para pemanjat. Namun, ia menegaskan bahwa aksi tersebut tidak dilakukan secara sembarangan dan telah melalui proses perencanaan yang matang.
Menurut Atha, pembentangan spanduk di lokasi strategis merupakan salah satu ciri khas aksi Greenpeace, baik di Indonesia maupun di negara lain, dalam menyuarakan isu lingkungan, iklim, dan sosial.
“Pada dasarnya, kalau teman-teman lihat lagi, track back lagi ke sejak dulu, aksi Greenpeace itu memang ikoniknya dengan pembentangan spanduk. Sebelumnya juga di berbagai tempat, kami selalu berusaha menyampaikan isu dengan aksi kreatif, terutama pembentangan spanduk di titik-titik strategis ya,” ucapnya.
“Sebelumnya juga kan beberapa tahun lalu kami juga pernah melakukan aksi serupa, membentangkan spanduk di beberapa titik sekaligus ya, termasuk di Bundaran HI dan juga di Patung Pancoran,” sambungnya.
Selain itu, Atha menyebut Greenpeace Indonesia memiliki aktivis dan relawan yang ahli serta terlatih dalam kegiatan pemanjatan.
Para pemanjat juga telah berlatih selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan aksi pembentangan spanduk di pusat Ibu Kota tersebut. Mereka turut dibekali peralatan yang memenuhi standar keselamatan tinggi.
“Kegiatan ini dilakukan oleh kawan-kawan aktivis dan relawan Greenpeace dan mereka sudah sangat mempersiapkan, berlatih. Kesiapan personel kita pastikan fit, memang punya kemampuan, sudah selalu berlatih juga sejak lama,” tegas Atha.
“Secara peralatan tentu ukuran-ukuran kami juga sudah memastikan agar memang bisa meminimalisir risiko, jadi memang kita lakukan secara safe and secure. Medannya semuanya sudah dipelajari, sehingga kita bisa meminimalisir risiko dan alhamdulillah lancar,” imbuhnya.
Sumber: Tribun News


