MEDIASMART.ID – Sejumlah nasabah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mendorong perbankan, khususnya bank-bank milik negara, untuk tidak menaikkan suku bunga KPR setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah meningkatnya biaya hidup masyarakat, termasuk setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kondisi ini dinilai dapat menambah beban pengeluaran rumah tangga yang sudah menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan pokok.
Salah seorang nasabah KPR BTN, Gito, berharap Prabowo dapat meminta bank-bank BUMN menahan kenaikan bunga KPR agar cicilan rumah tidak semakin memberatkan masyarakat.
Saat ini, bunga KPR yang dibayarkannya telah memasuki periode bunga mengambang (floating) sekitar 14 persen. Ia khawatir kenaikan suku bunga lanjutan akan membuat cicilan bulanan semakin besar dan berpotensi mengganggu kemampuan membayar.Keluhan serupa disampaikan Sulis, nasabah KPR BNI.
Ia menyebut bunga KPR yang dikenakannya saat ini berada di kisaran 13,5 persen. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan hidup tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Karena itu, para nasabah berharap pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto bersama perbankan dapat mencari jalan keluar agar kenaikan BI Rate tidak langsung diikuti dengan peningkatan bunga KPR.
Sementara itu, sejumlah pihak di sektor perbankan mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah, terutama bagi debitur yang telah memasuki masa bunga floating dan memiliki beban cicilan yang tinggi.
Sumber: Tribun Bisnis


