MEDIASMART.ID – Rasa cemas masih menghantui anak-anak korban gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), satu pekan setelah terjadinya gempa bermagnitudi 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) pekan lalu.
Meski luka fisik tak tampak di tubuhnya, sebagian anak masih menyimpan luka lain yang tidak terlihat.
Mereka masih ketakutan setiap kali merasakan guncangan atau mendengar suara gemuruh.
Kondisi itu terlihat di posko pengungsian Terpusat Lapangan Pendidikan Barangkolong, Reok, Manggarai pada Kamis (20/8/2026) menjelang siang.
Tawa ceria anak-anak terdengar di tengah tenda pengungsian ketika mereka mengikuti kegiatan trauma healing bersama para relawan.
Sebagian anak asyik bermain bersama para relawan, sementara lainnya menikmati makanan ringan dan susu kemasan yang dibagikan.
Namun, keceriaan itu seketika berubah ketika gempa susulan kembali mengguncang kawasan pengungsian.
Anak-anak yang sebelumnya bermain langsung panik, sebagian menangis dan bergegas mendekati orang tua mereka.
Suara material bangunan yang runtuh di sekitar lapangan juga kembali terdengar.
Bunyi itu berasal dari bangunan sekolah yang berada di sekitar lokasi pengungsian.
Lapangan Pendidikan Barangkolong memang dikelilingi setidaknya tiga sekolah, yakni SMPN 1 Reok, MIN 1 Manggarai, dan MTsN Manggarai.
Gempa susulan yang cukup kencang terjadi pada Kamis siang, membuat warga yang sedang bersantai di sekitar tenda langsung panik.
Sebagian warga yang sedang berteduh di dekatbangunan sekolah dan pohon-pohon juga bergegas berpindah ke area lebih terbuka.
Mobil relawan dan kendaraan pengangkut bantuan yang terparkir di sekitar tenda ikut berguncang hebat.
Gempa tersebut berlangsung kurang dari dua hingga tiga detik.
Setelah guncangan berhenti, warga perlahan kembali tenang dan melanjutkan aktivitas di sekitar tenda.
Namun, tidak semua anak mampu segera menghilangkan rasa takutnya, beberapa di antara mereka masih menangis dan memilih berada dekat dengan orang tuanya.
Beberapa waktu kemudian, tampak seorang ibu berkerudung cokelat menggendong anak balitanya, menuju posko kesehatan di tengah pusat pengungsian.
Raut wajah anak tersebut terlihat cemas dengan mata yang masih basah setelah menangis, tangannya tampak menggenggam erat sang ibu.
“Keluhannya apa ibu?” tanya seorang petugas medis berpakaian Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri.
“Badan demam dan ketakutan ibu. Dari semalam begini terus. Trauma sama suara-suara kalau guncang,” jawab sang ibu.
Petugas kemudian memasangkan termometer di ketiak anak tersebut untuk mengukur suhu tubuhnya.
Sementara itu, petugas lain melanjutkan menanyakan kondisi anak itu sebelum datang ke posko kesehatan.
“Tapi anaknya bagaimana ibu sebelumnya? kalau lagi sama yang lain main juga kah?” tanya petugas kesehatan.
“Kalau main dia ceria. tapi kalau sudah ada suara-suara dia langsung takut, menangis. Sampai demam,” sahut sang ibu.
Luka fisik mulai berkurang
Dokter relawan di Posko Kesehatan Pengungsian Terpusat Lapangan Barangkolong, dr Aji Wibowo, mengatakan kondisi seperti itu mulai terlihat pada anak-anak setelah hampir satu pekan gempa.
Menurut Aji, kasus luka akibat tertimpa batu dan puing-puing mulai berkurang.
Penanganan pasien luka terbuka yang membutuhkan jahitan juga telah menurun.
“Untuk kasus terbanyak untuk saat ini, ya, mulai menginjak hampir satu minggu ya ini, sudah mulai banyak kasus batuk pilek, terutama untuk anak kecil,” kata Aji, Kamis.
Meski begitu, Aji mengakui bahwa para tim kesehatan saat ini mulai melihat munculnya kecemasan pada anak-anak.
“Setelah itu ini sudah mulai tampak dari anak-anak-anak kecil mulai merasa apa? Seperti cemas ya, kayak trauma ya. Kayak shock akibat gempa yang sering sekali masih apa muncul ya, meskipun ya tinggal hitungan detik tapi tetap itu cukup besarlah untuk skalanya,” ujar Aji.
Menurut Aji, gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian anak kembali mengalami ketakutan.
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian dalam penanganan pengungsi.
“Makanya Kita dibantu oleh teman-teman psikolog dan psikolog klinis juga. Kurang lebih seperti itu yang bisa saya laporkan untuk kondisi bencana di NTT ini,” kata Aji.
Ribuan Gempa Susulan
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) aktivitas gempa susulan pascagempa utama M 7,7 yang mengguncang Flores, NTT telah mencapai 4.258 kejadian hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB.
Dari total gempa susulan tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bahkan, 31 gempa lainnya bermagnitudo di atas 5,0.
Rangkaian gempa susulan atau aftershock diperkirakan masih akan berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan.
Sumber : Tribun News


