
SMARTMEDIA.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengambil alih kewenangan pembangunan jembatan yang mengalami kerusakan atau anjlok di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan keterbatasan fiskal pemerintah daerah setempat yang dinilai tidak mampu membiayai perbaikan secara optimal.
Jembatan yang menjadi akses vital warga tersebut sebelumnya mengalami kerusakan saat dilintasi sejumlah pejabat, dan kini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi karena berdampak langsung pada mobilitas masyarakat.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kondisi keuangan Kabupaten Pangandaran menjadi salah satu alasan utama Pemprov Jabar turun tangan.
Ia menyebut beban fiskal daerah tersebut cukup berat sehingga tidak memungkinkan untuk menangani pembangunan jembatan secara mandiri.
“Kita enggak usah lagi berdebat urusan jembatan gantung di Desa Margacinta. Pemprov Jabar juga tahu Pemda Kabupaten Pangandaran itu keuangannya tidak mampu, tekanan fiskalnya berat, defisitnya tinggi. Bu Citra (Bupati Pangandaran) aja nanti pusing,” kata Dedi Mulyadi dikutip dari unggahan TikTok pribadinya, Rabu (2/9/2026).
Dedi Mulyadi memastikan bahwa Pemprov Jabar akan segera membangun jembatan permanen di lokasi tersebut.
Jembatan baru nantinya dirancang agar mampu dilalui kendaraan roda empat serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
“Sudah, Pemprov Jabar segera mengambil alih jembatan yang ada di Margacinta menjadi kewenangan Pemprov Jabar,” tutur Dedi.
“Selanjutnya, kami segera membangun jembatan permanen di Desa Margacinta sehingga bisa dilewati mobil, banyak orang, mengangkut hasil bumi, pertanian, peternakan, perikanan, dan kelautan,” sambungnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan jembatan permanen tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar, khususnya sektor pertanian dan perikanan yang menjadi mata pencaharian utama warga.
Jembatan di Desa Margacinta selama ini menjadi jalur penting penghubung antarwilayah, terutama antara Kecamatan Cijulang dan wilayah sekitarnya.
Selain digunakan untuk mobilitas harian, jembatan tersebut juga menjadi jalur distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pendidikan warga.
Sebelum mengalami kerusakan, jembatan tersebut bahkan kerap dilalui warga yang membawa hasil kebun dengan beban berat, serta menjadi akses utama anak sekolah dan layanan kesehatan.
Namun, setelah insiden anjlok, mobilitas warga terganggu karena jalur alternatif yang tersedia lebih jauh, harus melewati beberapa desa dengan waktu tempuh lebih lama.
Sumber: Tribun News


