MEDIASMART.ID – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan inflasi di Indonesia terjaga dengan baik, bahkan turun dari bulan lalu. “Inflasi kita terjaga sangat baik di tengah gejolak geopolitik yang tidak ringan ya, terjaga di angka 2,88 persen turun dari angka 3,34 persen year on year di bulan yang lalu,” ujar Tito usai rapat di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (10/8/2026). Menurutnya, angka 2,88 persen itu sudah cukup ideal sesuai target pemerintah, ideal. “Ini angka yang berimbang, menyenangkan petani, produsen, nelayan, pabrik, dan juga menyenangkan konsumen karena enggak terlalu berat,” imbuhnya.
Tito menjelaskan, setiap awal pekan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan kementerian terkait rutin melakukan rapat mengenai masalah dan penyebab inflasi, baik angka setiap daerah maupun nasional.
“Apakah dia core inflation-nya, ataukah dia volatile items seperti makanan minuman, core inflation-nya itu, atau yang diatur pemerintah; tarif angkutan udara, listrik, BBM misalnya. Nah, di situ baru kita bisa tangani setelah tahu masalahnya,” ucapnya. Eks Kapolri itu memaparkan data BPS soal inflasi pekan lalu. Dari data itu, BPS melihat bahwa yang perlu diwaspadai adalah soal harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras. “Beberapa waktu yang lalu yang naik adalah bawang putih, hampir dua bulan menempati posisi nomor satu, sekarang bawang putih sudah terkendali. Artinya distribusinya sudah lancar dari importir,” ucap dia.
“Yang kedua adalah tadinya minyak goreng, ya sekarang minyak gorengnya relatifnya sudah mulai turun,” lanjut Tito. Lebih lanjut, Tito mengatakan harga beras relatif kini masih stabil meskipun ada 108 daerah dari 514 kabupaten/kota mengalami kenaikan. “Ada 306 lagi daerah (tidak naik), kan 514 kabupaten/kota, yang relatif terkendali. Bahkan 59 daerah harga beras relatif turun. Nah, tapi apa pun juga kita selalu berusaha untuk mengendalikan dengan baik sehingga yang naik-naik-naik tadi,” tuturnya.
Dia juga sudah berkomunikasi dengan Dirut Bulog hingga menteri terkait untuk melakukan intervensi di daerah-daerah yang terjadi kenaikan komoditas. “Dan juga kepada daerah-daerahnya kita minta untuk kita share datanya untuk mereka melakukan aksi juga untuk menekan, bisa dengan operasi pangan ataupun yang lain,” ucapnya.
Sumber: Tribun News


